Kirim Karya

SKSP Book Store
No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan
No Result
View All Result
SKSP Book Store
No Result
View All Result
Home Log In Hikmah

Membaca Terang yang Dicari Tania Rahayu

Admin by Admin
6 Juli 2026
0
Membaca Terang yang Dicari Tania Rahayu
Share on TelegramShare on WhatsappShare on Twitter

Oleh Abdul Wachid B.S.
(Penyair)

Saya tidak membaca lima puisi Tania Rahayu sebagai lima sajak yang berdiri sendiri. Saya lebih senang membacanya sebagai satu perjalanan batin yang sedang mencari sesuatu. Setelah beberapa kali membacanya, saya sampai pada kesan bahwa yang sesungguhnya dicari penyair ini bukanlah cinta, bukan pula kerinduan. Yang ia cari ialah terang.

Karena itu, bagi saya, puisi “Temukanlah Terang” dapat dibaca sebagai pintu masuk untuk memahami empat puisi yang lain, yakni “Secangkir Kopi Panas”, “Ada Pesta Kembang Api”, “Tentang Hal-Hal yang Tidak Kau Ketahui”, dan “Perbincangan Inti”. Kelima sajak tersebut saya baca sebagai satu gugusan pengalaman batin yang saling berhubungan, bukan sebagai karya-karya yang berdiri sendiri.

Cara membaca demikian sejalan dengan pemikiran Michael Riffaterre bahwa makna puisi tidak selalu lahir dari satuan-satuan lariknya, melainkan dari keseluruhan sistem tanda yang dibangun teks. Dalam suatu gugusan karya, sering kali terdapat satu teks yang berfungsi sebagai matrix, sedangkan teks-teks lainnya menjadi varian yang mengembangkan orientasi makna yang sama (Riffaterre, 1978, hlm. 19–23). Saya tidak bermaksud menerapkan kerangka itu secara metodologis. Saya hanya merasakan bahwa Temukanlah Terang memang memiliki kedudukan seperti itu dalam lima puisi Tania Rahayu. Dari puisi inilah cahaya pembacaan bergerak menuju puisi-puisi yang lain.

Puisi Kunci: Temukanlah Terang

Saya kutipkan puisi tersebut secara utuh.

TEMUKANLAH TERANG

Hitam adalah hitam
Putih adalah putih
Jika putih mencerminkan bayang hitam
Maka temukanlah
Terang lubuk hati
untuk melihat mereka lebih dalam

Hitamkah kau?
Putihkah aku?
Sejatinya kau aku adalah rahasia
yang hanya tampak
lewat cahaya
Maka temukanlah
Terang kasih dan doa
Untuk merasakan cinta
dan rahmat yang menyelimuti segala

Temukanlah terang
Pada diam
Pada terang
Pada pengampunan
dan keikhlasan.

Puisi ini tampak sederhana. Bahkan nyaris menyerupai sebuah renungan. Namun justru di situlah saya menemukan arah perpuisian Tania Rahayu. Ia tidak memulai puisinya dari sebuah peristiwa, melainkan dari keadaan batin. Konflik yang dibangun bukan konflik antarmanusia, melainkan pergulatan dalam cara memandang kehidupan.

Hitam dan putih di dalam puisi ini bukan sekadar warna. Keduanya menjadi jalan untuk mengatakan bahwa manusia tidak pernah selesai dipahami hanya dari apa yang tampak. Yang dibutuhkan bukan tergesa-gesa memberi penilaian, melainkan terang batin agar mampu melihat lebih dalam. Terang itu tidak dicari di luar diri, tetapi di dalam kasih, doa, pengampunan, dan keikhlasan.

Di sinilah saya mulai memahami mengapa hampir seluruh puisi Tania bergerak dengan ritme yang tenang. Ia tidak tertarik membangun ledakan dramatik. Ia memilih percakapan yang lirih dengan dirinya sendiri. Puisinya lebih mengajak pembaca berhenti sejenak dan merenung daripada mengejutkan melalui permainan bahasa.

Saya teringat pada Gaston Bachelard yang mengatakan bahwa citraan puitik yang sejati tidak terutama bekerja melalui logika, melainkan melalui resonansi yang dibangkitkannya dalam batin pembaca (Bachelard, 1994). Saya merasakan hal yang sama pada puisi ini. Kata terang bukan sekadar diksi yang berulang, melainkan pusat resonansi yang perlahan mengubah cara kita memandang hitam, putih, rahasia, kasih, doa, pengampunan, dan keikhlasan. Justru karena kesederhanaannya, kata itu memperoleh ruang untuk tumbuh di dalam batin pembaca.

Variasi Terang dalam Empat Puisi Lain

Kecenderungan itu tampak pula dalam Secangkir Kopi Panas. Kopi tidak hadir sebagai benda yang hendak dideskripsikan, tetapi sebagai ruang yang mempertemukan manis, pahit, penantian, dan waktu. Larik penutupnya sangat sederhana.

Malam larut berpuisi
Secangkir kopi itu sudah tidak panas lagi.

Yang mendingin sesungguhnya bukan kopi. Yang mendingin ialah kesempatan yang terlambat direngkuh. Penyair tidak menjelaskannya. Ia membiarkan pembaca merasakan sendiri perubahan suhu itu sebagai perubahan batin.

Demikian pula dalam Ada Pesta Kembang Api. Kembang api yang lazim dipahami sebagai lambang kemeriahan justru diarahkan kepada kesadaran religius.

Kau aku tak bisa apa-apa
Pada rahasia rencana-rencana-Nya.

Saya menyukai cara Tania menghadirkan dimensi spiritual. Tuhan tidak tampil sebagai slogan atau nasihat. Kehadiran-Nya terasa sebagai kesadaran bahwa kebahagiaan manusia tetap berada dalam wilayah yang tidak sepenuhnya dapat dikuasai manusia sendiri.

Nada yang sama hadir dalam Tentang Hal-Hal yang Tidak Kau Ketahui. Kerinduan dibangun melalui sesuatu yang disimpan, bukan diumumkan.

adalah pintu gerbang rumah hatimu
yang kukira akan kutinggali.

Kata kukira memberi jarak yang penting. Harapan tidak dipastikan menjadi kenyataan. Puisi tetap menjaga kerendahan hati di hadapan kemungkinan-kemungkinan hidup.

Sementara itu, Perbincangan Inti memperlihatkan kecenderungan yang semakin jelas.

Bagiku bagian paling menyenangkan
dari berbincang denganmu
Bukan apa-apa yang sedang kau bicarakan
Tetapi justru dirimu.

Perhatian penyair tidak tertuju pada informasi, melainkan pada kehadiran. Yang penting bukan isi percakapan, melainkan pengalaman batin ketika berjumpa dengan seseorang. Saya melihat kecenderungan ini cukup konsisten dalam seluruh puisinya.

Kecenderungan seperti ini memperlihatkan bahwa Tania lebih mengutamakan pembentukan suasana daripada pembangunan peristiwa. Di sini saya teringat akan pemikiran Cleanth Brooks bahwa kesatuan puisi tidak ditentukan oleh jalan cerita, melainkan oleh hubungan organik antarelemen yang saling menghidupi sehingga membentuk satu pengalaman estetik yang utuh (Brooks, 1947). Dalam lima puisi Tania, hubungan organik itu dibangun bukan melalui konflik yang keras, melainkan melalui perenungan yang tenang. Setiap puisi menjadi variasi dari satu orientasi batin yang sama.

Kekuatan dan Tantangan Perpuisian

Dari lima puisi tersebut saya menangkap bahwa kekuatan utama Tania Rahayu terletak pada kemampuannya menjaga suasana batin yang teduh. Ia tidak tergoda membangun metafora yang rumit hanya untuk memamerkan kecanggihan bahasa. Larik-lariknya bersih, diksinya hemat, dan spiritualitas hadir sebagai pengalaman hidup, bukan sebagai slogan.

Namun justru karena itulah saya melihat tantangan kreatifnya.

Sebagian besar lambang yang digunakan masih berasal dari gudang lambang yang sudah sangat akrab dalam perpuisian Indonesia: cahaya, malam, bulan, hati, doa, semesta, bunga, kopi, dan rindu. Semua itu tetap indah, tetapi keindahannya telah menjadi milik bersama. Lambang-lambang tersebut belum sepenuhnya menjelma sebagai identitas simbolik yang khas bagi penyairnya.

Dalam pengalaman saya menulis puisi, saya melihat bahwa lambang memperoleh daya hidup ketika ia memiliki sejarah konkret dalam pengalaman penyair. Pengalaman itulah yang membentuk cara saya membaca puisi. Karena itu, saya cenderung memandang bahwa lambang tidak hanya mengandung makna, tetapi juga memikul hikmah. Hikmah itulah yang menggerakkan alegori dan akhirnya membentuk pengalaman puitik pembaca.

Pandangan tersebut terasa sejalan dengan ungkapan Paul Ricoeur bahwa simbol selalu gives rise to thought (Ricoeur, 1967:348). Namun, dalam pengalaman saya sebagai penyair, lambang tidak berhenti pada kemampuannya membangkitkan penafsiran. Lambang juga mengantarkan pembaca menuju hikmah. Hikmah itulah yang memberi daya hidup kepada lambang sehingga ia tidak berhenti sebagai ornamen estetik, melainkan terus berkembang melalui perjalanan makna yang dialami pembaca.

Dari sudut pandang itulah saya membaca bahwa puisi-puisi Tania masih lebih kuat membangun suasana daripada mengembangkan perjalanan satu lambang hingga tumbuh menjadi kisah alegoris. Padahal, ketika sebuah lambang diberi ruang untuk menjalani kehidupannya sendiri, ia akan bergerak, bertemu dengan lambang lain, dan perlahan membangun perjalanan makna. Pada saat itulah pembaca menemukan hikmah tanpa merasa sedang dinasihati.

Pandangan ini tentu lahir dari pengalaman estetik saya sendiri sebagai penyair. Karena itu, saya tidak bermaksud menawarkan teori baru untuk menggantikan teori-teori yang telah ada. Saya hanya mencoba memahami puisi melalui jalan yang selama ini saya tempuh: berangkat dari hikmah, menjelma menjadi lambang, berkembang sebagai alegori, lalu kembali menjadi hikmah dalam pengalaman pembaca. Jalan itulah yang saya gunakan ketika membaca lima puisi Tania Rahayu.

Menuju Suara Kepenyairan yang Semakin Khas

Meskipun demikian, saya melihat bekal yang penting telah dimiliki Tania Rahayu, yakni kepekaan batin. Modal semacam ini tidak dapat diperoleh hanya melalui teori sastra. Yang masih perlu terus diasah ialah keberanian mempercayakan satu hikmah kepada satu lambang yang benar-benar lahir dari pengalaman hidupnya sendiri. Dari sanalah, menurut saya, kekhasan perpuisian seorang penyair mulai tumbuh.

Saya membaca lima puisi ini sebagai langkah awal seorang penyair yang sedang menemukan suaranya. Suara itu lembut, tidak tergesa-gesa, dan percaya bahwa kehidupan selalu menyediakan terang bagi mereka yang bersedia melihat lebih dalam. Saya berharap pada puisi-puisi berikutnya, terang itu tidak hanya menjadi tema, tetapi menjadi cahaya yang menghidupkan setiap lambang.

Dengan demikian, pembaca tidak sekadar menikmati keindahan larik-lariknya, melainkan pulang membawa satu hikmah yang tinggal lebih lama di dalam batin.

Bagi saya, di situlah puisi mencapai kepenuhannya: ketika estetik, imajinasi, dan hikmah bertemu dalam satu pengalaman puitik yang utuh. Dan saya melihat, perjalanan Tania Rahayu sedang bergerak ke arah itu.***

Daftar Pustaka

Brooks, Cleanth. 1947. The Well Wrought Urn: Studies in the Structure of Poetry. New York: Harcourt, Brace & World.

Bachelard, Gaston. 1994. The Poetics of Space. Trans. Maria Jolas. Boston: Beacon Press. (Karya asli 1958).

Ricoeur, Paul. 1967. The Symbolism of Evil. Boston: Beacon Press.

Riffaterre, Michael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.

Penulis

[1] Penulis adalah penyair, Gubes Pendidikan  Bahasa & Sastra Indonesia, Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Purwokerto.

Admin

Admin

SKSP

POPULER

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

Puisi – Puisi Quinta Sabrina

2 Juli 2024

Tentang Redaksi

11 Juli 2024

Puisi-puisi D. Zawawi Imron

12 Juni 2022
Puisi – Puisi Tania Rahayu

Puisi – Puisi Tania Rahayu

2 Juli 2024
  • Disclaimer
  • Kebijakan & Privasi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Esai
    • Esai
    • Esai Terjemahan
  • Puisi
    • Puisi
    • Puisi Terjemahan
  • Cerpen
  • Gurit
  • Galeri
  • Katalog Buku
    • Info Buku
    • Beli Buku
  • Tentang Redaksi
  • Kerjasama Korea Selatan

© 2024 SKSP - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In