oleh Abdul Wachid B.S. [1]
Pendahuluan
Puisi bukan sekadar rangkaian kata yang indah, melainkan ruang batin tempat penyair menyembunyikan, menyuarakan, sekaligus menyembuhkan apa yang tak sanggup diucapkan secara langsung. Ia adalah cermin jiwa yang retak oleh pengalaman, tetapi tetap memantulkan cahaya. Dalam tradisi kesusastraan, terutama puisi lirik, ungkapan personal menjadi medium untuk menyentuh yang universal, maka luka menjadi makna, kehilangan menjadi doa, dan ruang menjadi kenangan.
Dalam dunia yang bergerak cepat dan serba dangkal ini, suara-suara batin sering tertelan oleh kebisingan narasi dominan. Maka kehadiran penyair muda seperti Suci Wulandari, lahir dan tumbuh di Banyumas, menjadi penting untuk diperhatikan. Sebagai mahasiswi S2 UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang aktif dalam komunitas sastra, Suci telah menunjukkan keberanian untuk menyuarakan pengalaman hidupnya melalui puisi-puisi yang hening namun menghunjam. Ia bukan hanya menulis, tetapi menghayati setiap larik seolah sedang berdialog dengan sunyi yang lama dipendam.
Puisi-puisi Suci Wulandari tidak berpretensi menyelesaikan pertanyaan besar kehidupan, namun ia berhasil menangkap momen-momen batin yang tulus: duka karena kehilangan, doa yang lirih di antara gelombang waktu, dan kota sebagai ruang kenangan yang tak henti berbisik. Melalui bait-bait yang sederhana namun jujur, ia merekam perjalanan batinnya yang rapuh namun juga penuh daya tahan. Dalam konteks ini, Suci mewakili generasi muda yang tengah mencari makna di tengah dunia yang serba kabur.
Sebagaimana dikemukakan penyair dan kritikus sastra Octavio Paz, “Poetry is the other voice. It is the voice of passion, of vision, and of spirit; “Puisi adalah suara yang lain. Ia adalah suara hasrat, penglihatan, dan jiwa” (Paz, 1990, The Other Voice: Essays on Modern Poetry). Ungkapan ini tepat menggambarkan puisi-puisi Suci Wulandari, yang menghadirkan suara batin perempuan muda dalam suasana yang lembut, rapuh, tetapi tak menyerah.
Esai ini akan menelusuri jejak-jejak reflektif dalam puisi-puisi Suci Wulandari, menyorot bagaimana ia membingkai luka sebagai pintu spiritualitas, bagaimana ia mendekap alam dan kota sebagai cermin batin, dan bagaimana ia membiarkan doa tumbuh di antara kehampaan.
Seluruh puisi Suci Wulandari yang direfleksikan dalam esai ini bersumber dari website Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP): https://skspliterary.com/2024/11/puisi-puisi-suci-wulandari-3.html dan https://skspliterary.com/2023/04/puisi-puisi-suci-wulandari.html serta https://skspliterary.com/2022/03/puisi-puisi-suci-wulandari-2.html
A. Luka dan Kehilangan sebagai Pintu Spiritualitas
Puisi memiliki daya untuk menembus sekat-sekat pengalaman lahiriah dan menghadirkan makna batiniah yang lebih dalam. Dalam puisi-puisi Suci Wulandari, pengalaman kehilangan tidak hanya menjadi tema, tetapi menjelma sebagai pintu menuju ruang spiritual—sebuah kesadaran baru tentang diri, kehidupan, dan kehadiran yang transenden. Puisi-puisi seperti “Kosong” dan “Berdukalah Sesukamu, Tuan” menyuguhkan permenungan tentang kehampaan, kehilangan, dan perjumpaan dengan yang Ilahi.
Dalam puisi “Kosong”, Suci menulis:
…..
aku
hilang, sejak engkau hilang
rapalan
doa, tetesan kecil air mata,
menjadi ramuan baru,
untuk memanggilmu,
dari keabadian
Baris ini menciptakan imaji tentang kekosongan bukan sebagai nihilisme, melainkan sebagai ruang kontemplatif. Kekosongan menjadi tempat “peristirahatan” bukan untuk menyerah, tetapi untuk menerima dan merenung. Dalam khasanah sufistik, “kosong” atau fana’ sering dipahami sebagai tahapan spiritual, yakni pelepasan dari segala keterikatan duniawi menuju kesadaran akan kehadiran Ilahi (Nasr, Seyyed Hossein. The Garden of Truth, 2007). Maka, Suci tidak sedang menarasikan kehampaan yang murung, melainkan menyingkap lapisan terdalam dari luka sebagai awal perjalanan spiritual.
Puisi “Berdukalah Sesukamu, Tuan” menunjukkan sikap pasrah yang tidak fatalistik, tetapi reflektif. Ia menulis:
…..
Maka,
berdukalah sesukamu, tuan
Sampai
kering air matamu
Sampai
habis penyesalanmu
Sampai
lenyap penderitaanmu
Aku,
Persilakan.
Baris ini menunjukkan bagaimana duka yang intens tidak disikapi dengan pemberontakan emosional, melainkan dengan penerimaan yang dalam—diam yang menjelma doa. Dalam dunia spiritualitas Islam, khususnya dalam ajaran tasawuf, kesedihan adalah bagian dari tajalli—penampakan rahasia Ilahi dalam bentuk pengalaman emosional yang mendalam (Schimmel, Annemarie. Mystical Dimensions of Islam, 1975). Dalam puisi ini, “diam sebagai doa” menjadi bentuk khalwah, kesendirian yang penuh kesadaran akan Allah.
Menarik bahwa Suci tidak berupaya “menghibur” pembaca dari luka, tetapi justru mengajak untuk tinggal di dalamnya, menatapnya, dan mengerti bahwa duka bukan lawan dari iman, tetapi bagian darinya. Hal ini sejalan dengan pandangan Rainer Maria Rilke yang menulis dalam Letters to a Young Poet: “Let everything happen to you: beauty and terror. Just keep going. No feeling is final”; “Biarkan segalanya terjadi padamu: keindahan dan teror. Teruslah berjalan. Tak ada perasaan yang bersifat final” (Rilke, 1934).
Melalui puisi-puisi ini, Suci menjadikan kehilangan sebagai peristiwa yang melampaui logika personal. Ia tidak meratap dalam artian lemah, melainkan merapal makna di balik kesunyian. Puisi, dalam konteks ini, menjadi media transendensi, sebuah jalan menuju pengenalan diri yang lebih dalam dan pertemuan dengan kehadiran yang tak terucap. Kehilangan bukan titik akhir, melainkan awal dari perjalanan batin yang sunyi dan sakral.
B. Ketabahan dalam Simbol-Simbol Alam
Puisi-puisi Suci Wulandari menunjukkan betapa alam bukan sekadar latar, melainkan juga subjek yang hidup, yang berbicara, dan yang mendoakan. Dalam sajak-sajaknya seperti “Ombak”, “Damar”, dan “Girpasang”, Suci menyalurkan ketabahan melalui simbol-simbol alam yang tak lekas runtuh oleh waktu dan derita. Alam menjadi guru yang mengajarkan keikhlasan, kesetiaan, dan kekuatan yang diam-diam bekerja dalam sunyi.
Dalam puisi “Ombak”, ia menulis:
selain hujan dan angin,
ombak pun punya cara
untuk menyampaikan tenang
melalui riuhnya
“tidak apa-apa”
ucap ombak kepada seorang
gadis
deburnya menerjang, tanpa
melukai apapun
kecuali karang yang keras
ombak memecah dan mengikis
berkeping-keping, berpuing-puing
menjadikannya kerikil dan pasir
menghias pantai alas duduk sang
gadis
…..
Di sini, ombak bukan hanya fenomena alam, melainkan gambaran tentang kesetiaan dalam keterulangan. Ia datang dan pergi, tetapi tak pernah absen. Seperti doa yang terus dirapalkan meski jawaban belum tiba. Ombak menggulung “sabda”, kata yang sarat makna spiritual, mungkin juga firman Tuhan, menuju “tepi”, tempat batas antara daratan dan lautan, antara dunia fana dan ketakterhinggaan. Ini sejalan dengan pandangan filsuf Martin Buber bahwa alam dapat menjadi “Thou”, yaitu subjek spiritual yang bisa diajak berdialog secara batiniah (Buber, Martin. I and Thou, 1937).
Lalu dalam puisi “Damar”, Suci menulis:
…..
Damar menyertai setiap usia
Merelakan dirinya kepada tiupan
Yang berisi rapalan doa-doa tua
Dirangkai dalam kepercayaan naif
Namun damar hanyalah sekumpulan
titik api
Yang kelak akan hilang
Dan mati
Damar di sini adalah nyala kecil yang setia bertahan, bahkan ketika cahaya nyaris padam. Simbol ini mengingatkan kita pada konsep nur (cahaya) dalam sufisme, yang menjadi manifestasi kehadiran Tuhan dalam diri manusia (Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred, 1981). Damar adalah gambaran dari hati yang terus menyala dalam gelap, sebuah ketabahan yang tak membara, tapi terus hidup. Seperti yang ditulis Jalaluddin Rumi: “The wound is the place where the Light enters you” — “Luka adalah tempat di mana Cahaya masuk ke dalam dirimu.” (Rumi, The Essential Rumi, trans. Coleman Barks, 1995).
Adapun dalam puisi “Girpasang”, Suci menyebut:
Sepasang merpati melintasi
lekak-lekuk jalanan
nun jauh dari jantung kota
menyusuri padang ilalang
menyeberangi jembatan awang-awang
bergerak menembus bukit-bukit kapur
sayap-sayap menggantung
pada dinding-dinding kumulus
yang sebentar lagi akan tumpah ruah
mengguyur Girpasang
lembah yang bersimpuh di
hadapan Merapi
…..
Lembah Girpasang, sebuah tempat nyata di lereng Merapi yang terpencil, ditampilkan sebagai ruang spiritual yang menyimpan zikir, bukan sekadar gema. Alam menjadi tempat kontemplasi dan pengembaraan batin. Di sana angin bukan hanya tiupan, melainkan suara alam yang berdoa. Ungkapan “merpati yang/ beterbangan di atas angannya” menunjukkan bagaimana makhluk alam pun menjadi bagian dari puisi besar semesta.
Melalui simbol ombak, damar, dan lembah, Suci menyuguhkan alam sebagai cermin batin manusia. Simbol-simbol itu bukan dekorasi, melainkan lambang keberadaan yang menyatu dengan jiwa. Dalam tradisi hermeneutik simbolik, hal ini dikenal sebagai cosmic mirroring—yakni anggapan bahwa alam semesta adalah pantulan dari dinamika spiritual manusia (Eliade, Mircea. The Sacred and the Profane, 1957). Suci seakan mengajak kita membaca alam bukan dengan mata, tapi dengan batin.
Dengan demikian, puisi-puisi ini bukan hanya ungkapan estetis, tetapi juga pernyataan iman yang halus: iman kepada ketekunan, kepada kehadiran yang diam-diam menjaga. Suci menulis alam sebagai kitab sunyi yang menampung luka, menyimpan harap, dan menyala dalam kegelapan.
C. Cinta yang Tak Selesai: Rembulan, Kota, dan Bayangan
Dalam beberapa puisinya, Suci Wulandari menghadirkan cinta bukan sebagai pertemuan yang tuntas, tetapi sebagai kerinduan yang menggantung. Cinta dalam puisi-puisi seperti “Rembulan Malam Tadi”, “Kau dan Yogya”, dan “Telapak dan Setangkai Mawar” bukan tentang kepemilikan, tetapi tentang kehilangan yang menjadi puisi itu sendiri. Ia tidak menampilkan cinta sebagai sesuatu yang heroik atau dramatis, melainkan sebagai bayang-bayang yang lembut dan tak sepenuhnya musnah.
Dalam “Rembulan Malam Tadi”, Suci menulis:
…..
rembulan itu menggenggam sesak
sebab kenyataannya, ia lebih berjarak
padahal ia mengerti
senyum bumi, hanya terlukis
untuk rembulan, dalam nyata dan
sepi
…..
Rembulan di sini hadir sebagai metafora batin yang tak utuh. Cinta yang tak selesai menyebabkan rembulan “hampir menemui padam”, sebuah penggambaran puitik tentang kekosongan emosional. Ini mengingatkan pada konsep “wounded beauty” dalam estetika romantik, yakni keindahan yang justru lahir dari ketidaksempurnaan dan luka (Caruth, Cathy. Unclaimed Experience: Trauma, Narrative, and History, 1996). Ketaktertuntasan menjadi sumber makna, bukan kelemahan.
Sementara dalam puisi “Kau dan Yogya”, ia menulis:
…..
Kau, dan Yogya
Adalah rencana-rencana tertunda
Yang rajin mendapat maaf
Dari sela-sela kekecewaan
Melebur ke dalam janji
Yang berhasil disepakati lagi
…..
Kota, dalam hal ini Yogyakarta, menjelma menjadi ruang batin yang menyimpan bayangan seseorang. Kota bukan hanya geografi, melainkan tempat ziarah kenangan. Ini paralel dengan gagasan Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space (1958), bahwa ruang bukan sekadar bangunan, tetapi wadah dari memori dan hasrat. Cinta yang gagal pun bisa melekat pada dinding-dinding kota, lorong-lorong, dan senja di perempatan. Kota menjadi saksi bisu sekaligus altar dari rindu yang tak selesai.
Adapun puisi “Telapak dan Setangkai Mawar” menghadirkan cinta sebagai sesuatu yang lembut, rapuh, namun tetap penuh harapan:
Kau dan aku,
adalah telapak dan setangkai mawar
yang mencari titik temu
dalam segenggam perjalanan panjang
tak ada yang salah dengan
bagaimana rupa
kelopak dan telapak
mereka sibuk melipat jarak
mengusir “kapan” yang terus mendesak
sesak.
Dalam baris ini, cinta hadir sebagai pemberian yang tetap dilakukan meskipun sang penerima sudah tak ada. Ini bukan cinta yang menuntut, tetapi cinta yang memberi. Setangkai mawar melambangkan kasih yang lembut dan fana, sedangkan telapak adalah simbol kehadiran yang konkret namun sudah berlalu. Puisi ini mengingatkan kita pada ungkapan dari penyair Jerman Rainer Maria Rilke: “Love consists in this, that two solitudes protect and touch and greet each other” — “Cinta terdiri atas ini: dua kesendirian yang saling melindungi, menyentuh, dan menyapa satu sama lain” (Rilke, Letters to a Young Poet, 1929).
Dalam ketiga puisi ini, Suci membangun sebuah ruang batin di mana cinta dan kehilangan saling menjalin. Ia tidak mencoba menyembuhkan luka itu, tetapi justru menumbuhkan bunga dari luka tersebut. Seperti dikatakan Haruki Murakami: “Pain is inevitable. Suffering is optional.” — “Rasa sakit tak bisa dihindari. Penderitaan adalah pilihan.” (Murakami, What I Talk About When I Talk About Running, 2008). Maka, cinta yang tak selesai dalam puisi Suci bukan tentang penderitaan semata, tetapi tentang bagaimana manusia mengelola rasa untuk tetap hidup dan bermakna.
D. Tuhan, Sejuk, dan Harapan yang Tumbuh Diam-Diam
Di antara luka dan cinta yang tak selesai, puisi-puisi Suci Wulandari menghadirkan ruang paling sunyi sekaligus paling jernih: relasi manusia dengan Tuhannya. Dalam puisi “Tuhan Maha Sejuk” dan “Nanti Juga Tuhan Kasih Kabar”, kehadiran Tuhan tak muncul sebagai otoritas yang menghakimi, melainkan sebagai pelipur lara yang hadir diam-diam, memberi keteduhan dan harapan tanpa banyak bicara.
Puisi “Tuhan Maha Sejuk” diakhiri dengan bait sederhana:
…..
Lalu Tuhan,
Menyambutnya
dengan kesejukkan
Diturunkan-Nya
tetesan air dari gelapnya awan
Dititipkan-Nya
basah kepada sayup-sayup hujan
Yang
mendera tubuh dengan penuh kasih sayang
Hujan dan gundah, dua simbol keseharian manusia yang rapuh, menjadi latar dari kerinduan spiritual. Di sini, doa tidak hadir sebagai ritual keagamaan yang kaku, melainkan sebagai perbincangan intim antara jiwa yang lelah dan Yang Mahakasih. Menunggu Tuhan berarti bersedia menunda kepastian, dan di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Ayat ini menyiratkan bahwa Tuhan bukanlah sosok yang jauh dan tak terjangkau, melainkan sangat dekat—lebih dekat daripada kegelisahan itu sendiri. Dekatnya Tuhan juga tampak dalam puisi “Nanti Juga Tuhan Kasih Kabar”, saat penyair menulis:
…..
Ah kamu mumeti!
Padahal gampang,
kecil!
Jalan,
Pelan-pelan,
Rehat,
Lalu lanjutkan.
Jangan tanya
sampai kapan
Nanti juga Tuhan
kasih kabar
Gambaran “Tuhan kasih kabar” mencerminkan pengalaman ruhani yang lembut dan tak terdeteksi oleh pancaindra biasa. “Hidup” menjadi lambang kehadiran ilahi yang tidak memaksa tetapi menyapa. Ini sejalan dengan firman Allah:
“Dan Kami telah menguatkan hatinya dengan (wahyu): ‘Bersabarlah kamu bersama orang-orang yang mengingat Tuhan mereka pada pagi dan petang, yang menghendaki keridhaan-Nya semata.’” (QS. Al-Kahfi [18]: 28)
Puisi ini menunjukkan bahwa bertahan bukan berarti tidak pernah ingin menyerah, tetapi memiliki alasan untuk tetap berdiri bahkan saat menyerah terasa lebih mudah. Seperti diungkapkan oleh Viktor E. Frankl, penyintas Holocaust sekaligus psikiater: “Those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’.” — “Mereka yang memiliki alasan untuk hidup, dapat menanggung hampir semua cara untuk bertahan.” (Frankl, Man’s Search for Meaning, 1946/2006, p. 76).
Sikap spiritual dalam puisi-puisi ini bukanlah bentuk pelarian dari realitas, tetapi justru cara menghadapinya dengan kepala tertunduk namun hati teguh. Doa menjadi bentuk keberanian untuk mengakui kelemahan, dan dalam pengakuan itulah harapan tumbuh; bukan secara spektakuler, tetapi diam-diam, seperti akar yang menyusup pelan ke tanah tandus.
III. Penutup
Puisi-puisi Suci Wulandari tidak berhenti pada suara personal yang sekadar mengungkap perasaan. Di balik kata-kata yang lembut dan jujur, larik-lariknya menjelma menjadi refleksi eksistensial tentang kehidupan: luka yang tak terhindarkan, cinta yang menggantung, doa yang sunyi, dan harapan yang tumbuh pelan-pelan. Pembaca tidak sekadar diajak menyaksikan pengalaman seorang penyair muda, tetapi juga untuk menyelami kedalaman hidup itu sendiri.
Dalam puisinya, luka bukan hanya penderitaan, melainkan pintu menuju kesadaran yang lebih tinggi. Cinta bukan sekadar hasrat, melainkan latihan melepas. Kota bukan hanya ruang fisik, tetapi medan kenangan dan spiritualitas yang menyusup diam-diam. Dan Tuhan, dalam sajak-sajaknya, hadir dalam bentuk yang paling tak terduga: sebagai angin, sejuk, dan diam.
Menulis, bagi Suci, tampaknya adalah bentuk keberanian untuk tidak menyerah. Sebagaimana dikatakan oleh Bell Hooks, seorang pemikir feminis dan penulis asal Amerika: “Life-transforming ideas have always come to me through books, through reading.” (“Gagasan-gagasan yang mengubah hidup selalu datang kepadaku melalui buku, melalui membaca.”) — Bell Hooks, Teaching to Transgress: Education as the Practice of Freedom (1994), p. 2.
Begitu pula puisi, bagi Suci, bukan hanya produk estetis, tetapi sarana untuk bertahan dan menyembuhkan diri. Dalam konteks ini, puisi menjadi semacam dzikir, seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Maka, keberadaan Suci Wulandari di tengah komunitas sastra kampus dan ruang digital bukan sekadar penanda munculnya penyair muda, tetapi juga suara generasi yang sedang bertumbuh—di antara reruntuhan kenyataan dan nyala harapan. Dalam puisi-puisinya, Suci memperlihatkan bahwa yang paling personal bisa menjadi yang paling universal, ketika ditulis dengan kejujuran dan ketekunan jiwa.
Ia menulis dari luka, namun tidak larut dalam derita. Ia berdoa dalam puisi, namun tidak menggurui. Ia menatap kota dan alam, namun yang dilihatnya adalah dirinya sendiri. Dan dari situlah, puisinya menjadi cermin yang jernih: bagi dirinya, dan juga bagi kita yang membacanya.***
[1] Penulis adalah seorang penyair, dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.
